ILMU DAN HIDAYAH - Pesantren Al-Aqsho Babat - Lamongan

KABAR BARU

Post Top Ad

PONDOK PESANTREN PUTRI AL-AQSHO BABAT LAMONGAN

Selasa, 11 Februari 2020

ILMU DAN HIDAYAH


ALI AHMADI
Ponpes Putri Al-Aqsho Babat - Lamonga - Jatim


Banyak kita jumpai dalam potret kehidupan sehari-hari bahwa ilmu tidak selalu paralel dengan hidayah. Kongritnya: orang berilmu tinggi tidak selalu berakhlakul karimah.
Tentu saja, ini adalah anomali. Mestinya, meningkatnya ilmu dan pengetahuan pada seseorang akan berdampak pada meningkatnya perilaku. Dengan ilmu, mestinya, semakin mengerti mana yang terbaik.
Itulah mengapa, ilmu tidak bisa dilepaskan dari hidayah. Supaya ilmu tidak bebas nilai. Ingat, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah _"IQRA BISMIRABBIKA-LADZI KHOLAQ"_: Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Jadi, bukan sekedar _"iqra":_ membaca!
Dan dalam konteks ini pula, Rasulullah SAW menegaskan:
قال - صلى الله عليه وسلم - من ازداد علماً ولم يزدد هدى لم يزد من الله إلا بعداً. (الديلمي)
_"Barangsiapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, maka tidak akan bertambah apapun kecuali akan semakin jauh dari Allah"_ (HR. Ad-Dailami)
Sebagian ahli Hadis mensinyalir bahwa perkataan ini berasal dari Imam Hasan Al-Bashri, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hibban dalam kitab: "Raudhatul Uqola'".
Akan tetapi, ada Hadis Nabi melalui riwayat yang lain dari Bisyr bin Al-Hakam dari Sufyan, bahwa Nabi menegaskan hal serupa:
أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ قَالَ سَمِعْتُ سُفْيَانَ يَقُولُ مَا ازْدَادَ عَبْدٌ عِلْمًا فَازْدَادَ فِي الدُّنْيَا رَغْبَةً إِلَّا ازْدَادَ مِنْ اللَّهِ بُعْدًا
_"Tidaklah seorang bertambah ilmu, namun kecintaannya terhadap dunia juga bertambah, kecuali hanya menambah jauh dari Allah "._ (HR. Ad-Darimi)
فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا وَلَمۡ یُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا ۝  ذَ ٰ⁠لِكَ مَبۡلَغُهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِیلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ [النجم 29 - 30]
_"Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya mengingini kehidupan dunia. Itulah kadar ilmu mereka. Sungguh, Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."_ (Qs. An-Najm [53]: 29-30)
Maka, ilmu harus dibingkai dengan hidayah. Inilah jalan keselamatan. Jika tidak, maka justru akan membawa pada jalan kesesatan. Dan karena itulah, kita diwajibkan untuk selalu memohon hidayah pada Allah kepada jalan yang lurus: jalan keselamatan!
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ [الفاتحة 6]
Bahkan, secara tidak langsung ditegaskan oleh Rasul bahwa doa ini menjadi syarat sahnya shalat; karena tanpa Al-Fatihah tidak sah shalat seseorang. Artinya wajib diucapkan, tidak seperti doa-doa yang lainnya. Maknanya: wajib setiap muslim mengulang doa mohon hidayah.
Ilmu, kekayaan, dan bahkan kekuasaan di tangan orang yang tidak mendapat hidayah akan sangat merusak. Maka, sesungguhnya yang paling mahal dalam hidup ini hidayah.
Maka, sering saya katakan bahwa belum tentu orang yang mengerti kebenaran otomatis menjadi benar. Mengerti kebenaran adalah ilmu; dan menjadi benar adalah hidayah.
Maka, khusyukkan kembali doa-doa kita untuk memohon hidayah. Jangan sekedar mengirim anak ke sekolah atau pesantren atau universitas untuk sekedar ilmu, lalu meninggalkan mereka tanpa doa mohon hidayah. Berdoalah yang serius orang tua untuk anak cucunya dan sebaliknya; suami untuk isterinya dan sebaliknya; guru untuk muridnya dan sebaliknya; kiai untuk santrinya dan sebaliknya, rakyat untuk pemimpinnya dan sebaliknya; demikian seterusnya.

Ini serius! Maka, renungkanlah! Semoga Allah senantiasa melindungi kita dengan hidayah-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar